Sunday, August 17, 2008

Pesanan Sahabat


Bermimpilah tentang apa yang kamu impikan,
pergilah ke tempat kamu ingin pergi,
jadilah seperti yang kamu inginkan,
kerana kamu hanya memiliki satu kehidupan,
dan satu kesempatan,
untuk melakukan hal-hal yang kamu kehendakkan,
moga ianya sentiasa dalam reda tuhan,

Jangan tertarik kepada seseorang kerana parasnya,
sebab ianya hanya sementara,
jangan pula tertarik kepada kekayaannya,
kerana kekayaan dapat memusnahkan,
Tertariklah kepada seseorang,
yang dapat membuatmu tersenyum,
kerana hanya senyuman yang mampu,
membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah,
Semoga kamu menemukan orang seperti itu,

Semoga kamu mendapatkan,
kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati,
ujian yang cukup untuk membuatmu kuat,
kesedihan yang cukup untuk menjadikanmu manusia,
yang punya rasa simpati,
pengharapan yang cukup untuk menjadikanmu lebih bersemangat
dalam menempuh kehidupan,


Disaat satu pintu kebahagiaan tertutup,
pintu yang lain dibukakan,
tetapi acapkali kita terpaku,
pada pintu yang tertutup,
sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan,


Sahabat terbaik adalah dia,
yang dapat bersamamu,
tanpa mengucapkan sepatah katapun,
dan kemudian kamu meninggalkannya,
dengan perasaan telah berbicara lama dengannya.
kerana dia membuatmu bahagia,


Sungguh benar bahawa,
kita tidak tahu apa yang kita miliki,
sampai kita kehilangannya,
tetapi sungguh benar pula bahawa,
kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki,
sampai kita mendapatkannya,


Orang-orang yang paling berbahagia,
tidak selalu memiliki hal-hal terbaik,
mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik,
dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya,

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu,
beberapa orang yang salah,
sebelum bertemu dengan orang yang tepat,
kita harus mengerti,
bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu,


Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis,
mereka yang disakiti hatinya,
mereka yang mencari dan mereka yang mencuba,
Kerana hanya mereka itulah yang menghargai,
pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka

Masa depan yang cerah,
sentiasa ada,
jika kamu tidak melupakan kegagalan dan kesakitan di masa lalu,
jangan pernah mengucapkan selamat tinggal,
jika kamu masih mahu mencuba,
dengan kesungguhan,
jangan pernah menyerah,
jika kamu masih merasa sanggup,

Waktu kamu lahir,
kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum,
jalanilah hidupmu dengan bahagia,
sehingga pada waktu kamu mati,
detik itu,
kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis.

Friday, August 15, 2008

Keperibadian Dakwah

Hari ini merupakan hari-hari perjuangan, berjuang untuk menunaikan tugas dakwah yang mulia. Tugas yang tak pernah usai seiring perjalanan waktu. Malah semakin bergulirnya waktu semakin bermunculan tugas baru. Sebagaimana komentar seorang pujangga, ‘terbitnya fajar, merekahkan harapan cerah dan membawa sekelumit beban’. Akan tetapi bagi seorang aktivis dakwah waktu menjadi jalannya kehidupan. Sehingga kader dakwah selalu menata waktunya demi kehidupan yang ia jalani agar senantiasa siap menyongsong tugas yang ada dihadapannya.

Bukanlah sesuatu yang dipungkiri bahwa tugas dakwah memang bukanlah tugas yang ringan. Ia banyak liku dan kendala yang rumit. Baik dari pihak eksternal ataupun dari internal sendiri. Terkadang tugas dakwah menjadi beban berat untuk dipikul. Terlebih lagi bagi mereka yang berkepribadian rentan dan rapuh. Tugas itu menjadi tembok besar yang teramat sulit untuk dilewati. Mereka akan berkecil hati menatap tugas demi tugas. Terasa berat untuk menggerakan kaki dan tangan menerima tugas tersebut.
Namun tidak demikian bagi kader pilihan. Mereka akan berupaya maksimal untuk dapat menunaikan tugas mulia itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kader yang berkepribadian amal da’awy akan menyongsongnya dengan gembira. Tidak ada dalam diri mereka, kamus lelah dan ciut menyambut tugas. Karena tugas itu akan menjadi momen untuk mengukir sejarah hidupnya dengan tinta emas bagi kemenangan dakwah ini. Ia menjadi mulia bersama dakwah atau mati dengan keharuman sikap perilakunya dalam amal Islam.

Ketika Syaikh Mutawalli Sya’rawi menyampaikan pidatonya dalam suatu acara, bahwa amanah umat ini teramat berat. Karena kompleksitas masalah yang dihadapinya. Dan disertai penghalangnya dari musuh-musuh umat yang tidak pernah henti untuk menghancurkannya. Disamping itu kader dakwah yang memandu amanah ini sulit untuk didapatkan. Maka kepada siapa amanah umat ini diserahkan?. Hasan Al Banna bergumam dalam hatinya ketika mendengar ceramah sang Syaikh, ‘aku ingin, akulah orangnya yang akan mengemban amanah itu. Beginilah sikap kader dakwah yang brilian dalam menyambut tugasnya.

Menyikapi kenyataan ini bahwa tugas dakwah dan kepribadian kader merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dimana keduanya saling mempengaruhi. Maka perlu disadari pada seluruh kader untuk membangun dirinya agar menjadi kader-kader pilihan yang sanggup memikul tugas dakwah ini dengan hati lapang. Sehingga tugas demi tugas dapat tertunaikan dengan baik. Bila kader dakwah tidak lengah dalam masalah ini dan selalu berusaha untuk meningkatkan kepribadian dirinya dalam mengemban amanah ini maka ia dapat menaklukan dunia sebagaimana obsesi Imam Hasan Al Banna Rahimahullah. Sang Imam pernah mengungkapkan obsesinya dalam Risalahnya Kepada Pemuda, bahwa ia bisa menaklukan dunia dengan kader-kader pilihan dibawah binaannya. ‘Siapkan 12 ribu kader, aku akan bina mereka dan aku akan taklukan dunia dengan bersama mereka’.

Melalui pemahaman ini upaya untuk meningkatkan kepribadian diri dalam mengembang tugas dakwah ini menjadi perilaku harian bagi kader dakwah. Tidak boleh ada kesempatan yang terbuang dan tidak terpakai untuk agenda ini. Agar kepribadiannya tidak melempem, tidak pula mendua tetapi kepribadian yang tangguh dan ulet dalam amal dakwah. Selayaknya setiap kader menata dirinya dengan sungguh-sungguh agar dapat merealisasikan obsesi sang Imam. Untuk itu para kader dakwah perlu menyiapkan diri agar memiliki kepribadian yang dapat menuntaskan tugas dakwah dan merealisaikannya:

1. Membangun Ruh Keghairahan (Bina ruhil ghirah)

Menyadari banyaknya tugas dakwah yang perlu diemban kader dakwah harus membangun keghairahannya. Keghairahan untuk terus berbuat dan berjuang demi tegaknya dakwah. Sehingga semangatnya berkobar-kobar. Tidak pernah lemah sedikitpun dalam menghadapi rintangan. Tidak pernah layu dengan bergulirnya zaman. Tidak pernah gentar karena tantangan. Ia bagaikan batu karang di tengah lautan yang kokoh menghadapi terjangan ombak.

Abul ‘Ala Al Maududi mengingatkan kader-kadernya, ‘bila kalian menyambut tugas dakwah ini tidak sebagaimana sikap kalian terhadap tugas yang menyangkut urusan pribadi kalian maka dakwah ini akan mengalami kekalahan yang telak. Oleh karena itu sambutlah tugas ini dengan ghairah’. Amatlah tepat taujih Abul ‘Ala Al Maududi ini bila melihat sederetan tugas dan harapan umat. Bila saja kader dakwah memahami dengan betul maka mereka akan berupaya untuk menjaga keghairahannya agar tidak pernah redup sedikitpun. Karena ia akan berakibat fatal dalam menunaikan tugas ini.

Sebaliknya jiwa yang berghairah dalam menyambut tugas-tugasnya akan mudah untuk menyelesaikannya. Ia bahkan dapat menemukan celah-celah sempit untuk menjadi peluang besar yang akan menjadi menyebab kemenangan dakwah ini. Ia tidak pernah mundur tatkala bahaya menghadang. Ia tidak lelah ketika peluh bercucuran. Yang ada dalam benaknya adalah kami siap mengembannya untuk sebuah kemenangan.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim”.. (QS. Ali Imran: 139 – 140).

Karena itu sepantasnya bagi kader untuk selalu berusaha meningkatkan ghairahnya melalui amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW. sehingga ghairahnya tidak kendur. Apakah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, mengkaji sejarah kepahlawanan Islam, membayangkan pahala dan balasan yang dijanjikan Allah SWT., bercermin dari kehidupan kader-kader daerah terpencil yang sangat bersemangat untuk menyebarluaskan dakwah ini ataupun dengan kiat-kiat lainnya. Amalan tersebut menjadi bahan bakar untuk semangatnya agar selalu bergelora.
Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan ‘gelorakan semangatmu wahai ikhwah dan jangan kendur sedikitpun marilah maju bersama kafilah dakwah ini. Siapa yang tidak lagi bersemangat maka janganlah ikut barisan kami’.

2. Membangkitkan semangat inisiatif (Tasyji’u ruhil mubadarah)

Memahami tugas dakwah yang rumit maka setiap kader hendaknya selalu membangkitkan semangat berinisiatif. Agar dapat mensikapi dengan cepat apa yang sedang dihadapi dakwah ini. Tentu dengan mengacu pada kententuan syar’i. Sehingga aktivis dakwah tidak linglung dan bingung untuk segera berbuat atas sesuatu yang perlu segera disikapi. Selayaknya seorang kader tidak pernah mati inisiatifnya. Ia selalu berinisiatif untuk membela dakwah dengan berbagai potensi yang ada pada dirinya.

Seorang pujangga mengingatkan bahwa matinya inisiatif akan menutup banyak peluang. Malah ia melihat apa yang dihadapannya menjadi momok yang menakutkan. Ia akan menjadi orang yang penakut pada sesuatu yang belum terjadi bahkan ia sudah membayangkan dengan bayang-bayang hitam yang sangat mengerikan. Umat dan dakwah ini akan gembira terhadap kader yang kaya inisiatif. Sebagaimana gembiranya orang tua pada anaknya yang berinisiatif tinggi. Sang anak menyemirkan sepatu ayahnya ketika sang ayah hendak berangkat kerja. Ia suguhkan air minum hangat untuk ayahnya yang baru tiba. Ia rapikan belanjaan ibunya ketika datang dari pasar. Ia bersihkan alat-alat masaknya dan lain sebagainya. Orang tua akan sangat senang dengan perilaku anaknya dan ia akan banggakan dihadapan saudara dan tetangganya.

Syaikh Sayid Muhammad Nuh menceritakan murabbinya Syaikh Abbas Asisi yang selalu kaya inisiatif dalam berdakwah. Beliau bukan hanya kaya akan ide dan gagasan tetapi kaya pula dengan sikap dan perbuatannya. Hingga banyak orang yang tertautkan hatinya pada dakwah karena inisiatifnya yang teramat tinggi. Ada pemuda yang tertarik pada dakwah karena ia menyebut namanya yang telah ia hafal. Ada pula orang yang berjiwa kasar menjadi pengikut dakwah lantaran ia buka dengan dialog-dialog yang menarik. Dan masih banyak lagi kisah lainnya.

Kader yang berinisiatif tidak hanya semata mengandalkan point-point buku manual melainkan ia juga dapat melakukan sesuatu dengan tepat dan benar sesuai masanya yang sedang dihadapinya. Inisiatif memang tidak lahir begitu saja. Ia selalu beriringan dengan kebiasaannya untuk berbuat. Kebiasaan berbuat dapat menerobos celah sekecil apapun untuk menemukan hal-hal baru. Oleh karena itu Allah SWT. merintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berbuat.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS. At Taubah: 105).

3. Membangun jiwa tanggung jawab terhadap dakwah (Bina ruhil mas’uliyah)

Tanggung jawab kader terhadap dakwah tidak boleh berkurang. Kader hendaknya selalu membangun rasa tanggung jawabnya setiap saat. Berkurangnya tanggung jawab kader pada dakwah ini dapat memporak-porandakan amanah umat ini. Kader yang bertanggung jawab pada tugas tidak bisa bersantai-santai/beruncang kaki sementara kader lainnya sedang sibuk menunaikan tugas.

Jiwa tanggung jawab ini sangat dikaitkan dengan keimanan yang melekat padanya. Juga dikaitkan dengan kesertaannya menjadi umat Muhammad SAW. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., ‘Bukanlah golongan kami orang yang tidak punya perhatian terhadap urusan kaum muslimin’. (HR. Bukhari). Sangatlah logis bila tanggung jawab terhadap dakwah ini berhubungan erat dengan kesertaannya sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Karena merekalah yang bertanggung jawab langsung terhadap kesinambungan dakwah ini. Tersebar luas dakwah ini atau tidak ada pada pundak mereka. Mereka yang menjadi pelanjut dakwah ini telah mendekatkan dirinya dengan para Nabi. Lantaran mereka telah melaksanakan hal yang sama dilakukan para Nabi.

Kader dakwah yang bertanggung jawab pada tugas kadang tidak bisa tidur nyenyak. Ia senantiasa berpikir keras untuk untuk kemajuan dakwah. Ia merasa malu bila tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa sedih bila dakwah tidak berkembang. Ia sangat senang kalau dakwah ini menggeliat dan meraih banyak pengikut. Ia risih bila meninggalkan tugas yang masih berceceran di sana-sini. Dan ia akan senantiasa siap menyongsong tugasnya. Wajarlah bila Imam Hasan Al Banna memandang sikap kader yang tidak bertanggung jawab pada tugasnya sebagai perbuatan dosa. Oleh karena itu kader dakwah dalam menyongsong tugas mulianya seperti pengikut Nabi Isa AS. yang setia. Merekalah kaum Hawariyun sangat peka pada tanggung jawab dan tugasnya. Sebagaimana firman Allah SWT.:

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (QS. Ali Imran: 52).

4. Membangkitkan semangat pengorbanan (Tarqiyatu ruhil badzli wat tadhhiyah)

Pengorbanan dan perjuangan sesuatu yang niscaya. Perjuangan tidak dapat dipisahkan dengan pengorbanan. Dakwah suci ini bergerak dengan deras karena pengorbanan para kadernya. Maka semangat pengorbanan harus terus hidup di hati kader dakwah agar menjadi kepribadian mereka yang sesungguhnya. Sehingga mereka akan selalu terdepan dalam pemgorbanan. Karenanya tidak ada dalam sejarah sebuah perjuangan ideologi yang dibangun tanpa perjuangan. Maka sudah menjadi suatu keharusan untuk berkorban dengan apa yang ada padanya demi tegaknya dakwah mulia ini.

Kader-kader yang siap berkorban menjadi syarat mutlak untuk suatu kemenangan. Dengan jiwa ini jalan mencapainya menjadi mulus. Perjalanan meraih kemenangan bak tanpa hambatan. Adalah hal patut bagi seluruh kader dakwah memberikan sesuatu yang amat diperlukan dakwah ini. Ini menjadi tanda keringanan dirinya untuk berkorban. Dalam berkorban untuk dakwah tidak pernah terbetik untuk menolaknya. Bahkan sedapat mungkin memberikan apa yang sangat berharga dalam dirinya. Jiwa dan raga. Semangat semacam inilah yang melancarkan futuhat dakwah di berbagai negeri. Termasuk ketika menaklukan Romawi.

Khalid bin Walid RA. ditanya pembesar Romawi perihal kepahlawanan kaum muslimin sehingga mereka bisa menaklukkan Romawi. Panglima Khalid RA. menjawab, ‘Kami dapat berada di depan mata kalian dan menaklukkan negeri kalian karena kami datang bersama orang-orang yang cinta mati sebagaimana kalian mencintai hidup’. Tentunya pengorbanan semacam ini pengorbanan yang maksimal. Memang Allah SWT. hanya menerima pengorbanan hamba-Nya yang maksimal. Seperti dalam Firman-Nya.

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Maidah: 27).

Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan bahwa dalam perjalanan dakwah ini janganlah bersikap seperti umat Nabi Musa yang duduk-duduk berdiam diri saja menunggu datangnya kemenangan dari perjuangan Nabinya. Akan tetapi berbuat banyaklah untuk jalan dakwah ini dengan senantiasa selalu berkorban dan tidak pernah kendur semangatnya untuk berkorban. Memang semestinya demikian.

Tentu saja semangat berkorban ini tidak akan kendur manakala sikap kepatuhan kader pada ajaran ini tidak berkurang secuilpun. Mereka mematuhi ketentuan yang sudah seharusnya dijalankan. Mereka mengokohkan ruh maknawiyahnya setiap saat. Mereka berada dalam stamina spiritual yang prima. Said Hawwa menegaskan bahwa pengorbanan merupakan kepatuhan dan kepatuhan adalah syarat kemenangan. Maka siapkanlah sarana-sarana kemenangan dengan meningkatkan semangat berkorban terus menerus agar kemenenagan menjadi kenyataan yang dekat.

5. Meningkatkan potensi diri (Tarqiyatu ath-Thaqah adz-Dzatiyah)

Untuk dapat melaksanakan tugas mulia ini kader dakwah mesti menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan potensi dirinya. Agar ia bisa memberikan apa saja yang dibutuhkan dakwah ini. Meningkatkan potensi diri berawal dari penggalian potensi dan penajamannya. Adalah kemestian bagi kader untuk dapat mengenali potensinya. Sehingga ia tahu betul kemampuannya selaras dengan keperluan dakwah ini.

Menyadari kedudukan potensi kader bagi kelangsungan dakwah ini amat berarti maka para kader perlu mencermati dan mempertajamnya. Karena apapun potensi yang dimilikinya sangat berguna bagi dakwah ini. Sekalipun seperti butiran pasir. Memang secara fisik sebutir pasir sangat kecil adanya. Dan bila dibandingkan dengan material lainnya dalam sebuah bangunan terasa begitu amat sangat kecil. Tampaknya ia bukanlah unsur penentu dalam kekokohan bangunan tersebut. Betul adanya asumsi ini bila satu butir pasir saja yang berpandangan demikian. Akan tetapi jika seluruh butiran pasir beranggapan sama maka rubuhlah bangunan tersebut.

Karena itu kader dakwah tidaklah boleh memandang remeh terhadap berbagai potensi yang diberikan kader lainnya. Malah harus menghargai potensi-potensi tersebut dan menyemangati untuk berupaya terus meningkatkannya. Sebab Allah SWT. menyukai orang-orang yang dapat ikut serta dalam barisan dakwah ini dengan potensi yang diberikan-Nya.

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (QS. Al Isra’: 84)

Sedapat mungkin setiap waktu yang bergulir potensi kader semakin tajam. Seiring berjalannya waktu potensi kualitas kader semakin membaik. Seperti ungkapan seorang ulama tatkala berjumpa dengan temannya menyatakan ‘tidak aku temukan dalam dirinya setiap berlalunya waktu kecuali semakin membaik kepribadiannya’. Bila kondisi ini menjadi watak dan kepribadian para kader dakwah. Tidak mustahil kemenangan ini amat sangat dekat.

Kedinamisan Gerak Dakwah (Hayawiyatun Harakiyatun)

Adalah suatu kepatutan bagi kader dakwah untuk mengkondisikan kepribadiannya sedemikian rupa. Dengannya gerak dakwah ini akan semakin dinamis. Bahkan akan semakin mulus melenggangkan badannya untuk berkembang dan tersebar luas. Penyebaran dakwah yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan pelosok wilayah. Sehingga kenikmatan dakwah ini dirasakan secara merata. Ini menjadi indikasi kedinamisannya. Sebagaimana pertumbuhan fisik manusia yang dinamis adalah ketika seluruh organnya berkembang seimbang. Perkembangan tubuh yang imbang untuk dapat menjalani hidupnya yang semakin hari semakin menuntut kekuatan organ tubuhnya. Sehingga tidak boleh ada satu selpun dalam tubuhnya yang ngawur perkembangannya. Karena hal itu berdampak pada kesehatan dan kekuatan tubuhnya melakukan gerak hidupnya.

Adalah kewajiban kader dakwah untuk memenuhi kepribadian dirinya yang berimbas pada kedinamisan gerak dakwah ini. Dan kepribadian ini menjadi watak harian para kader. Maka mulailah berbenah diri secepat mungkin memenuhi tuntutannya. Terlebih bahwa kedinamisan dakwah ini memiliki dampak yang sangat besar. Bagaikan air yang terus mengalir. Aliran air akan menjadi suatu kekuatan dan energi kehidupan. Sebaliknya air yang diam tidak mengalir akan berakibat rusaknya susunan senyawa yang ada sehingga dapat merusak zat benda lainnya. Kedinamisan gerak dakwah ini akan berdampak pada:

1. Kesiapan dimobilisasi di setiap lini (Isti’dadu lit tanfidz)

Kesiapan kader dakwah untuk bisa dimobilasasi bagi kemenangan merupakan dampak dari gerak dakwah yang dinamis. Keberadaan kader di berbagai lini dapat memudahkan memikul tugas yang semakin banyak. Selayaknya memang bagi Kader dakwah menyadari akan fungsi dan perannya. Sehingga ia dapat selalu siap sedia dimobilisasi dalam untuk proyek besar dakwah ini. bahkan kesiapan dimobilisasi dan berada pada seluruh lini dari dakwah ini menjadi indikasi kualitas kader. Sebagaimana ungkapan Rasulullah SAW. tentang prajurit yang baik adalah mereka yang berada pada tugasnya masing-masing. Bila ditugaskan pada barisan depan ia ada di sana. Dan bila ditugaskan di bagian belakang ia pun menjalankan tugasnya di sana dengan baik.

Berada pada posisinya masing-masing, kader dakwah tidaklah boleh gentar apalagi kecewa dan mengeluh. Sebab semua itu tidak akan bermanfaat bagi dirinya untuk menjalankan tugasnya. Melainkan ia sambut dengan hati senang gembira dan selalu bermohon kepada Allah SWT. agar Dia senantiasa memberikan kekuatan untuk menunaikan tugas tersebut. Sehingga ia akan menjadi satu barisan prajurit yang gagah perkasa menyelesaikan amanahnya.

“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 172).

Kesiapan kader berada pada lini dakwah yang beragam karena menyadari bahwa pos-pos dakwah ini tidak boleh ada yang kosong. Kekosongan pos dakwah dapat membuka pintu kekalahan. Terlebih lagi pada pos yang sangat strategis. Cukuplah peristiwa Uhud menjadi pelajaran berharga bagi kader dakwah. Dimana pos-pos yang diringgalkan kadernya dapat menjadi peluang bagi musuh untuk mengobrak-abrik barisan kaum muslimin. Oleh karena itu apapun yang ditugaskan dakwah ini untuk menempati lini-lininya dan siap dalam keadaan dimobilisasi mesti diterima dengan antusias dan mengistijabahinya. Malah bila perlu selalu beranggapan bahwa justru disitulah letak kehidupan bagi dakwah ini.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. Al Anfal: 24).

Meski demikian tidak menutup peluang untuk menyampaikan pendapatnya tentang lini yang paling tepat bagi dirinya. Namun yang perlu diingat adalah sikap kesiapannnya untuk dimobilisasi tidak boleh sampai hilang.
2. Mengokohkan soliditas struktural (Taqwiyatu matanah at tanzhim)

Gerak dakwah yang dinamis berdampak pula pada kesolidan struktural dakwah. Apalagi dengan keadaan kadernya yang selalu dalam kondisi siap sedia. Keadaan ini akan mejadikan struktural tidak akan pernah keropos. Sebab sering kali penyebab kekeroposan struktural lantaran gerak dakwah yang asal menggeliat dan kadernya yang dipenuhi dengan qadhaya internal. Sudah dapat dipastikan bahwa kader yang selalu rebut dengan urusan internal konflik akan menggembosi perjalanan dakwah. Malah gerak dakwah ini menjadi rusuh, jalan tak beraturan dan berarah.

Umar bin Abdul Aziz RA. memerintahkan kepada seluruh jajaran panglimanya untuk mencermati para prajuritnya. Agar selalu memonitor mereka sehingga dapat mengetahui aktivitas apa yang sedang mereka lakukan. Tidak dibenarkan bagi mereka berdiam diri atau tidak dalam barisannya. Perhatian yang sedemikian rupa untuk mempersempit ruang bagi kekeroposan struktural. Karena prajurit yang tidak berada dalam barisan amal akan berpeluang menjadi perusuh.

Ketahanan struktural dapat menjadi tameng yang amat kuat melawan serangan musuh. Serangan sebesar apapun tidak akan mempan untuk menerobos masuk ke dalamnya. Ketahanan ini sekaligus melindungi prajurit yang ada di dalamnya. Oleh karena itu Allah SWT. mewanti-wanti agar selalu menjaga daya tahan struktural melalui persatuan dan kesatuan prajurit yang ada di dalamnya.tidak gaduh dengan persoalan internalnya. Tidak ribut dengan qadhaya dakhiliyahnya.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran: 103)

2. Meluasnya Manuver Dakwah (Tawsi’atu munawarati ad da’wah)

Dampak lainnya adalah manuver dakwah semakin meluas. Ia tidak dihambat oleh urusan-urusan internal sehingga langkah geraknya semakin melebar. Apalagi misi dari dakwah ini berkembang. Maka gerakannya harus selalu berkembang baik sisi jumlah kadernya, wilayahnya, jangkauan tanggung jawabnya, tuntutan dan kebutuhannya serta sisi perkembangan lainnya Rasulullah SAW. selalu mengamati perkembangan demi perkembangan dakwah ini dengan mendapatkan informasi dari para sahabatnya. Sehingga beliau dapat membayangkan masa-masa yang akan terjadi pada dakwah dan umatnya setelah hamasah nabawiyah(kepekaan kenabiannya) tentunya. Paling tidak dengan kondisi kader dan struktural yang mapan tanpa hambatan yang berarti bagi dakwah ini penyebarluasan dakwah akan semakin pesat dan cepat. Sehingga dakwah ini kembali pada ashalahnya yakni miliki semua orang dari berbagai kalangan bukan hanya pada kalangan tertentu yang sangat terbatas.

Bila seluruh jajaran kader menghiasi dirinya dengan kepribadian kader dakwah sedemikian rupa dan gerak dakwah ini semakin dinamis tanpa henti atau stagnan dalam geraknya maka futuhat-futuhat dakwah ini semakin dekat. Dan pintu-pintu kemenangan itu semakin terbuka. Serta serombongan manusia akan berbondong-bondong menerimanya. Tinggal permasalahan adalah sejauh mana kemauan kader untuk menata diri dan menghiasinya dengan kepribadian tersebut. Disinilah masalahnya. Maka sejak saat ini tanamkan dalam diri kita masing-masing untuk berupaya mewujudkannya dalam diri kita. Tanpa kenal lelah dan henti. Berusahalah semaksimal mungkin semoga Allah SWT. membantu diri kita untuk mengaplikasikannya. Wallahu ‘alam bishshawaab.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Q.S. An Nur: 55)

Wednesday, August 6, 2008

TANGGUNGJAWAB HAKIKI MAHASISWA

Ramai yang masih terkeliru mengenai tanggungjawab sebenar seorang mahasiswa. Begitu banyak pandangan, kritikan, nasihat, teguran, tohmahan, kutukan serta bermacam lagi yang dilontarkan kepada mahasiswa. Namun bagi mahasiswa Islam, perkara asas terpenting yang perlu dipikulnya adalah amanah terhadap Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :

Mafhumnya:

“Sesungguhnya kami telah bentangkan amanah ini kepada langit, bumi, bukit bukau, namun semuanya enggan dan menolak kerana bimbang tidak dapat melaksanakannya, kemudian ianya diterima oleh manusia sesungguhnya manusia adalah zalim lagi jahil.”

Tiada satu pengeculian kepada mana-mana mahkluk yang bergelar manusia di atas muka bumi Allah ini dalam hal memikul amanah terhadap pencipta yang mahabesar. Menurut Al-Qurtubi, Ibn Kathir serta Fakhrul Razi dan al-Mawardi, amanah membawa maksud menegakkan agama serta mentadbir seluruh dunia dengan berlandaskan agama iaitu Deen Islam.

Ilmu Sebenar Mahasiswa Tulen

Mahasiswa yang merupakan generasi muda terpilih serta terpelajar, pergantungan masyarakat kepada mereka sudah tentu lebih tinggi berbanding para pemuda yang lain, bukan itu sahaja malahan bebanan tanggungjawab terhadap Allah, agama dan masyarakat juga adalah lebih tinggi. Firman Allah:


Mafhumnya:

“ Tidak boleh semua dari kalangan orang mukmin itu pergi berperang sekaligus tetapi hendaklah ada di kalangan kamu yang menuntut ilmu agama serta memperdalaminya maka apabila mereka pulang ke kampung halaman mereka memberi amaran terhadap kaum mereka semoga kaum mereka mendapat nasihat”

Dalam konteks ayat ini, boleh kita kelaskan mahasiswa dari kumpulan yang menuntut serta memperdalami ilmu ini. Sudah nyata mereka perlu beperanan terhadap masyarakat lebih dari yang kurang berilmu.

Adakah boleh kita katakan berdasarkan ayat ini maka tugas mahasiswa adalah meperdalami ilmu sahaja tanpa terlibat dengan aktiviti luar atau dalam kata lainnya politik di sekitar mereka?. Saya adalah di antara mereka yang menolak pandangan yang menyatakan bahawa tugas mahasiswa hanya sekadar belajar dengan kata mereka ‘belajar dahulu kemudian bila keluar barulah berpolitik’ Ini berdasarkan beberapa sebab:

‌Ø£. Ayat tersebut di atas menyatakan bahawa ilmu yang harus dan mesti diperdalami adalah ‘tafaqqahu fi ad-deen’ ini bermaksud dalami ilmu agama. Suatu ilmu yang diiktiraf sebagai ilmu mestilah mempunyai ciri sebagaimana firman Allah SWT:

Mafhumnya:

“Sesungguhnya mereka yang paling takut dari kalangan hamba-hambku adalah para ulama’”

Bermakna segala ilmu yang diperdalami itu menjuruskan mereka kepada takutkan Allah atau ilmu yang mengarahkan manusia lain kepada takutkan Allah SWT serta menonjolkan kehebatan Islam. Jika demikian, Ilmu dalam Islam hanyalah diktiraf apabila ia diamalkan. Kerana itulah Allah SWT menyebut


Mafhum:

“Tiada (dikira) bagi insan itu kecuali apa yang diusahakan (diamalkan) dan apa yang diuasahakan (amal) sahaja yang dikira (di sisi Allah)”

Ini dikuatkan lagi dengan satu hadith baginda SAW :

Mafhumnya:

“Mereka yang bijak adalah mereka yang mendekatkan diri mereka dengan amalan untuk kehidupan selepas mati, manakala mereka yang bodoh itu adalah mereka yang bercita-cita terhadap Allah (Syurga dan nikmatnya) dalam keadaan mereka mengikuti hawa nafsu mereka (yang bertentangan dengan syari‘at)”

Justeru pada hari ini, adalah suatu kemestian bagi seorang mahasiswa itu melayakkan diri mereka sebagai seorang cerdik pandai di sisi Allah bukan sekadar manusia sahaja. Secara kesimpulannya, kefahaman terhadap ilmu sebenar perlu diperjelaskan. Konsep ilmu dalam Islam juga menegaskan bahawa ilmu mesti diamalkan dan tanpa amal ianya sia-sia.

‌ب. Ilmu yang dipelajari di Universiti dipendamkan sahaja sehinggalah mereka keluar, suasana ini seolah-olah membiarkan ilmu yang dipelajari beku walaupun jelas di hadapan mereka ilmu tersebut tidak dipraktikkan dan dicabuli oleh kepimpinan. Mereka cuba mem’period’kan ilmu padahal ilmu itu tidak boleh dibatasi dengan sebarang jangka waktu. Oleh yang demikian, menjadi tanggung jawab mahasiswa untuk menegur kepimpinan, masyarakat serta mereka yang memegang kuasa dengan secara teratur dan berstrategi. Inilah yang dikatakan Mahasiswa berperanan menentukan hala tuju sesebuah negara.

Kita harus menyedari bahawa ilmu yang paling berkesan adalah yang paling relevan dengan suasana semasanya, kerana inilah para ulama’ menetapkan hukum-hakam syara’ yang tidak ‘thabat’ menurut keadaan. Menurut kaedahnya :

Mafhum :

“Berubahnya suatu hukum adalah dengan berubahnya tempat dan masa”

Mahasiswa yang tidak membiasakan pemikiran mereka untuk mencari penyelesaian permasalahan luar atau semasa dengan ilmu yang dipelajari di Universiti akan menatijahkan kesukaran mereka untuk terjun dalam masyarakat kelak. Mana mungkin, para mahasiswa kita mampu menggarap dan mengejar suasana yang berlari begitu pantas tanpa mereka mengendahkan suasana semasa dan langsung tidak cuba berperanan dan menegakkan ilmu mereka. Tidak kira samada ilmu fardhu ain, ekonomi, pengurusan, seni reka, keluhuran undang-undang (Rule of Law) serta pelbagai ilmu-ilmu lain. Semuanya mempunyai peranan masing-masing untuk menentukan pengamalan di negara ini mengikut teori terbaik yang dipelajari mereka.

Kebekuan mereka akan menjadikan mereka terkapai-kapai mencari kehidupan selepas tamat belajar dan agak lambat mengejar suasana serta merealisasikan ilmu mereka secara berkesan. Maka lahirlah begitu ramai mahasiswa yang bekerja bukan dalam bidang kemahirannya. Adalakannya ilmu-ilmu di Universiti amat sedikit sekali membantu kerjaya mereka. Mereka juga terpaksa bermula semula dengan suatu bentuk ilmu baru yang dipelajari secara spontan dan praktikal.

‌. Mahasiswa berilmu dalam erti kata mereka akan menjadi elemen sedar dalam masyarakat, mampu melihat kebenaran serta kesilapan dasar negara. Mereka menjadi harapan rakyat yang kurang pengetahuan. Mereka juga menjadi ‘kumpulan pendesak’ (Pressure Group) yang berkesan’, selain itu juga menjadi tenaga ‘check and balance’ kepada persekitaran negara dan masyarakat.

Ini tidak bermaksud supaya mahasiswa menghabiskan masanya dalam arena kemasyarakatan serta negara sehingga meninggalkan kecemerlangan akademik, apa yang dikehendaki adalah mereka dididik supaya supaya bertanggungjawab kepada negara sejurus mempunyai ilmu, mereka juga berupaya mengurus masa dengan kemas sehingga mampu juga mencapai target akademik yang cemerlang. Inilah ciri mahasiswa yang dinamik, progresif serta cemerlang.

‌د. Pengertian ‘politik’ juga perlu diperluaskan kepada pengertian sebenar iaitu ‘Ilmu pengetahuan berkenaan cara pemerintahan, ilmu kenegaraan dan dasar-dasar pemerintahan’. Jika diamati pengertian ini maka kita akan memahami tanggungjawab mahasiswa dalam politik. Ia tidak bermaksud politik kepartian PAS, UMNO, BN, KeADILan dll semata-mata tetapi ia menuntut keperihatinan mahasiswa dalam sebarang urusaan pentadbiran negara dan dasar....



Friday, August 1, 2008

SOLAT HAJAT
DAN
PIDATO ROHANI
DI SELURUH NEGARA .

Memandangkan keadaan politik negara kian bergolak malah mencetuskan susana tidak stabil serta resah dikalangan rakyat.

Negara diselubungi fitnah , khianat dan dendam , bagai api yang sedang marak membakar segala keharmonian yang pernah dikecapi oleh rakyat sebelum daripada ini .

Tekanan hidup dan peningkatan kosnya menelurkan sebuah kehidupan yang semakin pincang. Hilang perasaan justeru memburu sesuap nasi . Manusia menjadi rakus tanpa timbang rasa .

Pemimpin tidak lagi menginsafi penderitaan rakyat sebaliknya hanya memikirkan pelan memperkukuhkan survival kuasa dan pengaruh . Pecah amanah , menyelewengkan kepercayaan dan menyalah gunakan kuasa .

Politik menjadi ganas , sosial penuh dosa dan noda sementara ekonomi menjadi pentas sebuah penindasan terhadap golongan yang tidak bernasib baik .

Agama dilihat sebagai halangan untuk mencapai kepuasan dan kebebasan hidup. Para ulamak dipandang hina dan menyusahkan .

Maksiat dan mungkar kini melata, menembusi benteng ummah yang kian rapuh dan runtuh .

Artis dipuja dan julang sementara pendakwah dicerca dan dihalang . Kelalaian mula menguasai anak - anak muda yang bakal mewarisi kepimpinan negara di masa depan

....... dan apa yang paling dibimbangi ialah prinsip amal Islami dan nilai akhlaknya semakin pudar dikalangan ummat Islam amnya malah membolosi pertahanan jamaah Islam itu sendiri apabila turut menerjah pemimpin dan anggotanya .

Lantaran itu , Dewan Pemuda PAS Pusat diseluruh negara melalui organisasinya di negeri - negeri adalah diminta agar menganjurkan IJTIMA' RUUHIYYAH untuk Solat Hajat dan Pidato Rohani di sepanjang tempoh bulan rejab ini .

Andai Pemuda PAS Negeri boleh menganjurkan IJTIMA' RUUHIYYAH ini maka aktiviti umumnya adalah bermula dengan solat maghrib berjamaah di Padang yang Luas dan solat hajat dengan dipimpin oleh Ketua Dewan Ulama' Negeri masing - masing yang turut memimpin munajat khas agar Allah menyelamatkan Perjuangan & Jamaah kita serta seluruh ummat dan negara kita dari musibah kegagalan , kecelakaan dan penderitaan.

Aktiviti diteruskan dengan solat Isya' berjamaah lalu diakhiri dengan ceramah Motivasi atau Pidato Rohani yang membangkitkan semangat perjuangan berasaskan aqidah perjuangan yang benar dan tulen .

Fokus ceramah bukan kepada isu dan politik semasa sahaja , tetapi lebih menekankan soal aqidah perjuangan , jihad dan pengorbanan yang saya kira menjadi topik yang semakin pudar akhir - akhir ini .

Pemuda , ayuh kita hidupkan kembali nilai perjuangan berasaskan kekuatan spiritual atau kerohanian yang tinggi tanpa kita bersikap prejudis terhadap kupasan atau bicara isu dan politik semasa . Kembalikan zaman kegemilangan Doa Rabitah dan Wirid al Mathurat .


Artikel ini saya pindah masuk dari blog saudara seislam saya : http://jihadtegakislam.blogspot.com

Bismillah,wal hamdulillah, wassolatu wassalamu ‘ala saiyyidil mursalin Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’ien, wa ba’du :

Salam ISLAH, "Di sana ada lagi satu penyelewengan yang boleh menjauhkan kita dari jalan yang sihat iaitu kita memandang ringan terhadap proses tarbiah, pembentukan dan perlunya beriltizam dengan ajaran Islam dalam membentuk dasar dan asas yang teguh.

Lantas kita seolah-olah melatah lalu menggunakan cara dan uslub politik menurut sikap dan telatah parti-parti politik. Kita akan mudah terpedaya dengan kuantiti anggota yang kita ambil yang dianggap menguntungkan tanpa mewujudkan iltizam tarbiah.

Ini adalah satu jalan dan cara yang sangat merbahaya yang tidak dipercayai akibatnya. Ini mungkin menyediakan anasir yang kukuh yang mampu memikul hasil kemenangan, kekukuhan dan kekuasaan untuk Islam.

Sebenarnya kita tidak kekurangan kuantiti, tetapi kita kekurangan kualiti. Kita kekurangan bentuk dan contoh Islan yang kuat imannya yang membulatkan dirinya untuk dakwah, rela berkorban pada jalan dakwah dan jihad fi-sabilillah dan yang sentiasa istiqamah hinggalah bertemu Tuhannya.

Oleh kerana itu marilah kita beriltizam dengan tarbiah dan janganlah kita redha menukarkannya dengan cara yang lain."Demikianlah bunyinya teks usrah tarbawi Darul Islah yang saya pimpin setiap Isnin saban minggu.Ia adalah terjemahan tulisan ash Sheikh al Mujahid Musthofa Masyhur (mantan Murshid 'Am Ikhwan al Muslimin).

Setelah hilang kemalasan saya sari dua ini akibat letih benar otak saya ni dengan isu muzakarah UMNO-PAS, maka malam inilah baru ada kekuatan untuk menulis kembali isi usrah Isnin yang lepas.Saya katakan kepada pemuda-pemuda di hadapan saya bahawa antara penyelewengan terbesar di dalam sebuah gerakan Islam bilamana diletakkan politik di hadapan tarbiyyah.

Hilang agenda tarbiyyah dalam gerak kerja parti dan jamaah. Tidak sepatutnya gerak kerja parti dipisahkan dari tarbiyyah. Hatta bila berpolitik sekalipun, ia adalah satu proses tarbiyyah kepada kita. Dalam isu muzakarah, nampak sangat Allah mahu mentarbiyyah dan menguji kita.

Dalam gerakan Islam, proses pemeliharaan Allah terhadap perjuangan menegakkan agama pasti berlaku. Dalam masa yang sama, proses penapisan juga berlaku. Allah SWT pasti akan membersihkan perjuangan ini dari jiwa-jiwa yang tidak ikhlas. Mereka yang mempunyai matlamat duniawi dan agenda peribadi dalam perjuangan tidak layak duduk dalam perjuangan Islam.

Bila Tuan Guru Presiden mengambil keputusan bertemu Pak Lah, ada orang kata Tuan Guru Presiden dan sebahagian pimpinan PAS sudah tertarik dan terpedaya dengan tawaran duniawi Pak Lah. Sebenarnya kita akan melihat siapa yang sebenarnya yang tertarik dengan tawaran duniawi tersebut dan akan dinyahkan oleh Allah SWT dari perjuangan suci ini.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya” Surah Al Hijr : 9Kefahaman terhadap nas di atas ialah Al Quran akan dipelihara Allah selama-lamanya. Termasuk dalam maksud pemeliharaan Allah SWT terhadap Al Quran ialah Allah akan memelihara orang-orang yang berjuang menegakkan Al Quran sebagai hukum dan mengangkat kemuliaan Al Quran ditempatnya.

Termasuklah jua kumpulan manusia atau jamaah yang berjuang menegakkan hukum Al Quran, mereka akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala kejahatan dan unsur-unsur yang tidak baik.Antara kaedah Allah memelihara perjuangan Islam adalah Allah turunkan ujian, Allah jadikan halangan serta kepayahan menghiasi dan menjadi latar belakang kepada perjuangan suci ini.

Dengan sendirinya, ,mereka yang ikhlas dalam perjuangan akan terus istiqamah dengan rahmat Allah SWT dan mereka yang punya niat yang jahat dan kotor tidak akan punya daya ketahanan dan akhirnya akan memilih jalan lain yang jauh lebih senang berbanding jalan perjuangan ini.

Maka berlakulah tapisan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya yang beriman.

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

Surah Muhammad : 31

Kalau tarbiyyah tidak dijadikan asas dalam perjuangan, mana mungkin akan terbitnya daya tahan dalam berhadapan dengan ujian Allah SWT. Jangan saudara bayangkan bahawa hanya dikatakan ujian itu ialah bila dipenjarakan, disiksa, dipulau dan sebagainya.

Itu semua tidak kita nafikan. Namun terkadang kita lupa bahawa ujian Allah itu boleh berlaku dalam perkara yang kita tidak sangka. Ujian emosi dan perasaan juga boleh berlaku. Rasa mahu berkuasa, mahu cepat jadi menteri, gila pengaruh , mahu menonjolkan diri untuk cepat naik dan perlbagai lagi.

Dalam usrah kita bincangkan teladan hebat Saiyyiduna Khalid Al Walid yang meneruskan perjuangan hingga selesai walau menerima surat pelucutan jawatan dari khalifah. Betapa beliau mengenepikan perasaan dan emosi demi memastikan kejayaan jihad.

Namun bila ujian yang sama menimpa kita, belum tentu kita dapat mengambil langkah seperti SaifulLah al Maslul Khalid al Walid rdh.

Di sinilah letaknya kepentingan tarbiyyah yang menjadi tunjang kepada setiap kerja buat gerakan Islam. Menjadikan anggotanya sentiasa segar dan teguh pendirian dalam setiap ehwal dan keadaan. Memburu kemuliaan kemenangan dan syahid di medan juang.

Murtad Bukan Hak Asasi

Malaysia adalah sebuah Negara Islam. Perkara 3(1) Perlembagaan Persekutuan memperuntukkan bahawa Islam ialah agama bagi Persekutuan, tetapi agama-agama lain boleh diamalkan dengan aman dan damai di mana-mana bahagian Persekutuan. Perkara 11 Perlembagaan pula memperuntukan “Tiap-tiap orang adalah berhak menganuti dan mengamalkan ugamanya dan tertakluk kepada fasal (4) mengembangkan ugamanya”. Daripada peruntukan ini jelas orang Islam berhak menganuti dan mengamalkan agamanya, iaitu Islam sebagai cara hidup mereka.
Fasal (4) menyebut undang-undang boleh dibuat untuk mengawal atau menyekat pengembangan apa-apa i’tiqad atau kepercayaan agama lain terhadap umat Islam. Ini bermakna Islam di Malaysia bukan seperti Pancasila di Indonesia. Menurut prinsip Pancasila tiada satu agama pun berhak memonopoli kehidupan rakyat. Ia berbeza dengan Islam di Malaysia yang telah diberikan hak dan kedudukan istimewa oleh perlembagaan. Dalam pada itu Islam tidak pula menyekat hak kebebasan mengamalkan agama bagi penganut lain. Bagaimanapun itu tidak bermakna kebebasan tersebut adalah mutlak kerana ia masih tertakluk kepada Perkara 11 (4) iaitu supaya tidak menyebarkannya di kalangan umat Islam. Dalam bab lain, kebebasan hak asasi manusia juga dijamin oleh Perlembagaan di bawah Bahagian Dua. Namun ia tertakluk pula kepada syarat-syarat tertentu seperti ketenteraman awam, kesihatan awam dan moral yang merupakan hak ramai.

Di peringkat antarabangsa, perjuangan menuntut hak asasi menjadi suatu agenda suci. Malah sudah menjadi lebih suci daripada kesucian agama anutan pendokongnya sendiri. Hak asasi manusia mulai mendapat tempat rasmi di arena antarabangsa melalui Perisytiharan Hak Asasi Manusia Sejagat 1948 (PHAMS 1948). Perisytiharan tersebut dipelopori oleh Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu yang keahliannya terdiri daripada kebanyakan negara-negara merdeka di dunia. Antara komuniti dunia terkuat yang mendokong perjuangan hak asasi ialah masyarakat Eropah sehingga mereka telah memaktubkan Konvensyen Eropah mengenai Hak Asasi dan Kebebasan Asasi 1950 yang mempunyai kuasa mengikat dari segi undang-undang terhadap negara anggota Komuniti Eropah. Keghairahan dunia Barat dalam memperjuangkan hak asasi menyebabkan mereka lupa bahawa di sana ada hak yang dicabuli. Umat Islam adalah antaranya.

Beberapa perkara di dalam PHAMS 1948 ditolak oleh umat Islam kerana hak asasi mereka untuk mengamalkan agama digugat. Antaranya Perkara 16 (1) yang berbunyi, “Men and women of full age, without any limitation due to race, nationality or religion, have the right to marry and to found a family. They are entitled to equal rights as to marriage, during marriage and at its dissolution”. Bagi penganut Islam perkara ini sudah tentu bertentangan dengan syariat Islam yang telah menentukan hukum-hakam berkaitan perkahwinan. Begitu juga Perkara 18 berbunyi, “Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance”.

Bagi Islam, Perkara 18 tidak boleh diterima kerana telah mencabuli hak asasi umat Islam dalam beragama. Islam menetapkan tujuan (maqsad) syariah yang pertama iaitu memelihara agama. Sekiranya umat Islam dibenarkan keluar dan masuk agama sesuka hati, ini bermakna hak umat Islam untuk memelihara agamanya telah dicabuli. Hukum Islam juga menetapkan bahawa keluar agama atau murtad merupakan suatu jenayah berat yang perlu diadili dan dihukum. Ini kerana,perbuatan keluar agama melibatkan kepentingan umum iaitu maruah agama dan umat Islam sendiri. Ia bukan sekadar hak individu.
Jangan pula ada pihak yang mendakwa Islam telah menyanggah hak kebebasan individu untuk memilih agama. Bukankah PHAMS 1948 itu juga diasaskan atas dasar menjaga kepentingan umum melebihi hak individu? Jika hak individu dibiarkan bermaharajalela, apa gunanya lagi kerajaan-kerajaan di dunia menggubal undangundang. Bukankah undang-undang itu dibentuk untuk menyekat kebebasan individu yang ditafsirkan oleh undang-undang sebagai salah? Malah terdapat satu klausa khas di dalam PHAMS 1948 iaitu Perkara 29 yang menyebut bahawa, “setiap orang tertakluk hanya kepada batasan seperti yang ditentukan oleh undang-undang semata-mata bagi tujuan menjamin pengiktirafan dan penghormatan yang sepatutnya terhadap hak-hak dan kebebasan orang lain dan untuk mendekati keperluan-keperluan sepatutnya bagi akhlak, ketenteraman awam dan kebajikan umum dalam suatu masyarakat yang demokratik”.

Begitu juga Islam. Perundangan Islam telah menetapkan bahawa murtad adalah suatu kesalahan dan ia tidak boleh disenaraikan di bawah hak asasi individu! Ia adalah soal doktrin agama yang suci. Tidakkah penganut agama lain juga akan tersinggung apabila terdapat di kalangan mereka yang melanggar kepercayaan agama sendiri?

Fenomena ini tidak sukar sekiranya semua pihak sama ada umat Islam atau bukan Islam saling memahami antara satu sama lain. Jika tidak, mereka akan saling menyalahkan agama lain atas dasar melanggar prinsip hak asasi manusia. Dalam konteks Malaysia, Seksyen 4(4), Akta Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia 1999 (Akta 597), memperuntukkan bahawa rujukan harus dibuat kepada PHAMS 1948 setakat yang tidak berlawanan dengan Perlembagaan Persekutuan. Oleh itu, Perkara 3(1) Perlembagaan Persekutuan yang menentukan bahawa Islam ialah agama bagi persekutuan, disokong pula dengan Perkara 121(1A) yang menyebut, “Mahkamah-mahkamah yang disebutkan dalam Fasal (1) –mahkamah Sivil- tidaklah boleh mempunyai bidang kuasa berkenaan dengan apa-apa perkara dalam bidang kuasa mahkamah Syariah”, haruslah dihormati dan difahami oleh semua pihak.

Justeru itu amat menghairankan apabila masih kelihatan individu atau pertubuhan yang mendesak supaya diberi kebebasan untuk keluar daripada Islam kononnya ia diberi kebebasan oleh Perlembagaan Negara. Sedangkan mereka telah memahami bahawa ‘murtad’ adalah satu kesalahan jenayah menurut syariat Islam. Sememangnya menurut Perkara 18, PHAMS 1948 menetapkan bahawa manusia bebas memilih dan menukar agamanya pada bila-bila masa. Bagaimanapun ini bercanggah dengan syariat Islam yang telah diberi kedudukan istimewa oleh
perlembagaan. Bagi Islam soal pemeliharaan agama amat penting bagi menjamin keharmonian negara dan masyarakat. Orang yang meninggalkan Islam dianggap meruntuhkan negara dan masyarakat Islam secara kolektif.

Seperkara lagi yang perlu difahami, tidak timbul isu pelanggaran hak asasi sekiranya hukuman Islam dikenakan terhadap orang Islam yang murtad. Ini kerana perilaku murtad yang dikenakan hukuman hanyalah murtad yang diisytiharkan dan diketahui oleh khalayak. Menurut al-Buti andaikata kemurtadannya didiamkan atau tidak didedahkan kepada orang lain, maka hukuman di dunia tidak boleh dikenakan kerana kaedah umum yang diamalkan oleh pemerintah Islam ialah bertindak berdasarkan pandangan zahir, manakala urusan batin diserahkan kepada Allah SWT yang akan membalasnya di akhirat kelak. (al-Buti, Sa`id Ramadhan, Dr. (2004),
Hurriyah al-Insan fi Zill `Ubudiyyah Li-Allah. Damsyik: Dar al-Fikr, hal. 85)
Hal seperti ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa kerana fenomena-fenomena murtad boleh berlaku bukan sahaja dalam bentuk lazim difahami orang seperti seseorang menganggap Islam yang dianutinya sudah tidak diyakininya lagi. Malah ia juga berlaku dalam pelbagai bentuk lain seperti yang disebut oleh pemikir-pemikir Islam. Antaranya muslim yang memberikan hak penentuan hukum (alhakimiyyah) dan perundangan kepada selain Allah. Membenci sesuatu sistem yang ada dalam Islam. Melihat hukum-hukum ciptaan manusia sebagai yang terbaik dan hukum-hukum syariat sebagai ketinggalan zaman. Melebihkan sistem yang lain keatasnya atau menyamakannya. Mempersendakan sesuatu yang datang daripada al-Qur‘an dan al-Sunnah, atau syiar Islam. Mencela keperibadian Rasulullah SAW. Menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT atau sebaliknya dan lain-lain lagi (`Ulwan, `Abdullah Nasih, Dr.(1988), Hurriyah al-I`tiqad fi al-Syari`ah al-Islamiyyah. Kaherah: Dar al-Salam, hal. 78-95; Ahmad Rasyad, Dr. (1998), Hurriyah al-`Aqidah fi al-Syari`ah al-Islamiyyah. Kaherah: Itrak li al-Nasyr al-Tawzi`, hal. 334-339)

Bila mana kemurtadannya diwar-warkan kepada orang ramai dan diiklankan kepercayaan barunya kepada khalayak, ia sekaligus telah mengisytiharkan serangan berbentuk pemikiran (al-harb al-fikriyyah) ke atas Islam dan aqidahnya. Tindakan tersebut boleh menimbulkan atau menanam bibit keraguan dalam hati orang ramai yang masih menganut Islam. Ketika ini, tindakan murtad perlu dilihat bukan dari segi hak peribadinya untuk menukar agama, tetapi dari aspek adanya unsur “hirabah’’, iaitu serangan terhadap dasar-dasar agama yang menjadi tonggak utama kerajaan Islam. Lantaran itu, langkah-langkah perlu diambil bermula dari proses memberi penjelasan bagi merungkai keraguannya, meminta supaya bertaubat dan berakhir dengan pelaksanaan hukuman bunuh atas dasar “hirabah’’ (al-qatlu hirabatan) sekiranya ia tetap berdegil mempertahankan pendiriannya untuk murtad. Ertinya murtad dibunuh bukan atas kekufuranya, tetapi atas dasar hirabah. (al-Buti, 2004:85-87).

Ini jelas berdasarkan ayat 33 surah al-Ma‘idah bermaksud: “Sesungguhnya balasan bagi orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan melakukan fasad (kerosakan) di muka bumi ialah sama ada dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau dibuang negeri...”. Walaupun ayat ini difahami oleh kebanyakan ulama sebagai ayat untuk menghukum penjenayah rompak dan samun, tetapi tidak dinafikan bahawa perbuatan murtad secara terang-terangan adalah salah satu daripada perbuatan memerangi Allah dan Rasul-Nya. Maka terdapat ulama Salaf yang berpendapat hukum bunuh si murtad itu juga diambil daripada ayat ini, selain hadith-hadith sahih lain yang bertindak sebagai penghurai. Antara yang berkata demikian ialah Abu Qilabah dan lain-lain. (Lihat Ibn Rajab al-Hanbali, Jami`al-`Ulum wa al-Hikam, hal. 32; juga Dr. Yusuf al-Qaradawi (1993), Malamih al-Mujtama` al-Muslim Allazi Nansyuduhu, Kaherah: Maktabah Wahbah, hal. 41)

Bagaimanapun, mutakhir ini terdapat pula kes-kes murtad yang berpunca daripada perceraian, kejahilan dan lain-lain yang dikatakan bersifat peribadi. Antara yang menggemparkan negara iaitu apa yang diputuskan oleh Mahkamah Tinggi Syariah Pulau Pinang pada 8 Mei 2008 yang membenarkan seorang mualaf iaitu Siti Fatimah Tan Abdullah keluar daripada Islam. Siti Fatimah mendakwa dia memeluk Islam hanya untuk berkahwin dengan seorang rakyat Iran bernama Ferdoun Ashanian. Namun dia tidak pernah sekali-kali mengamalkan ajaran Islam malah masih mengekalkan amalan agama asalnya, Buddha. Peguam bela Siti Fatimah, Ustaz Ahmad Jailani menyifatkan permohonan yang dibuat oleh Siti Fatimah itu, bukan permohonan keluar Islam, tetapi permohonan dalam menentukan status agamanya, adakah Islam atau tidak. Walau apapun hujah yang diputuskan oleh mahkamah, kita tetap menghormati keputusan tersebut atas dasar menjunjung prinsip keadilan.
Namun persoalan tetap timbul di kalangan bukan Islam, adakah Islam pada hari ini telah mengiktiraf murtad sebagai satu kebebasan hak asasi manusia? Dalam hal ini, ada baiknya kita merujukkan kes ini, dengan apa yang berlaku di Mesir baru-baru ini. Senarionya tidak jauh berbeza. Ia berlaku apabila badan kehakiman Mesir telah meminta fatwa daripada Universiti al-Azhar berkenaan permohonan bekas penganut Kristian Koptik yang masuk Islam hanya untuk kepentingan peribadi, seperti ingin berkahwin buat kali kedua atau menceraikan isteri (yang mana ditegah menurut agama mereka), dan setelah tujuannya tercapai ia murtad dan kembali ke agama asal.

Justeru itu, Universiti al-Azhar melalui Ketua Lajnah Fatwa al-Azhar, Syeikh Abdul Hamid al-Athrash telah mengeluarkan fatwa rasmi bahawa orang bukan Islam yang memeluk Islam untuk kepentingan peribadi, lalu ia murtad setelah kepentingannya tercapai, telah melakukan suatu jenayah besar, yang tidak boleh dibiarkan. Sesiapa yang murtad, maka wajib baginya menerima hukuman syar’i, sesuai dengan batas-batas yang ditetapkan jumhur ulama, setelah yang berkenaan diminta bertaubat. Jika ada yang mengatakan bahawa hal ini bertentangan dengan ‘prinsip kebebasan beragama’, maka pandangan itu tertolak, kerana Islam tidak memaksa sesiapa jua untuk memeluk agama ini.

Syeikh al-Athrash juga memperingatkan bagi sesiapa yang berkeinginan untuk memeluk Islam, dia perlu mempelajari Islam dengan baik dan memiliki tekad yang kuat, kerana setelah menjadi muslim, dia tidak lagi dibenarkan murtad. Fatwa ini juga secara tidak langsung menunjukkan Syeikh al-Azhar telah menarik kembali kenyataannya yang mengatakan tiada hukuman bagi bukan Islam yang masuk Islam lalu murtad kembali. Fatwa Syeikh al-Azhar itu dikaitkan dengan tekanan-tekanan yang diterima beliau ekoran desakan daripada pertubuhan-pertubuhan sivil serta para aktivis hak asasi manusia. Ini sekaligus menunjukkan bahawa al-Azhar tidak pernah sekali-kali mengorbankan hukum syarak atas apa jua alasan yang diberikan.
(http://www.alarabiya.net/articles/2008/01/19/44427.html)

Fatwa al-Azhar ini jelas menunjukkan bahawa para ulama Islam sentiasa konsisten mengatakan bahawa murtad adalah satu jenayah dan si murtad wajib dihukum. Walaupun fatwa tersebut tidak menyebut bentuk hukumannya, apa yang pasti hukuman perlu dikenakan ke atas orang murtad yang memeluk Islam dengan rela hati tanpa sebarang paksaan. Tidak timbul soal mencabuli kebebasan beragama kerana Islam tidak pernah memaksa seseorang memeluk agama ini. Oleh itu, kes yang diputuskan oleh Mahkamah Tinggi Syariah Pulau Pinang tidak boleh dijadikan asas kononnya Islam membenarkan murtad. Atau Islam telah mengiktiraf murtad sebagai hak asasi bagi penganutnya. Ini sebagaimana yang didakwa oleh beberapa pemimpin politik bukan Islam di negara ini sejurus keputusan dibuat oleh mahkamah. Sedangkan alasan mahkamah membenarkan pemohon keluar Islam ialah kerana pemohon didapati tidak pernah mengamalkan ajaran Islam sejak memeluknya pada tahun 1999. Bermakna, bukan atas alasan hak asasi pemohon.

Kesimpulannya, Islam ialah suatu agama yang amat realistik. Islam mengiktiraf kebebasan hak asasi manusia tetapi Islam melihatnya dalam ruang lingkup manusia sebagai hamba kepada Yang Maha Pencipta, Allah SWT. Islam mengenali apakah batas-batas kemanusiaan itu. Apa jua yang menepati sifat-sifat kemanusiaan, Islam tidak pernah menafikannya bahkan diperintahkan oleh Islam walaupun tidak diperundangkan sebagai hak asasi. Manakala apa jua yang diluar batas-batas kemanusiaan maka ianya ditegah bahkan diharamkan oleh Islam walaupun pejuang hak asasi mendakwa ia suatu pencabulan terhadap kebebasan manusia. Sebaliknya perjuangan hak asasi rekaan Barat merupakan sesuatu yang relatif. Malah ia hanya menjadi kuda tunggangan golongan sekular dan liberalisme agama di sana.
Oleh kerana itu, Islam tidak sekali-kali dapat menerima kefahaman hak asasi berasaskan world-view Barat. Sesungguhnya hak asasi tidak pernah suci, tetapi manusia yang mendakwa ianya suci. Adapun agama, ia adalah wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Berkuasa bagi membimbing hidup manusia. Hampir kesemua agama mengakui hakikat itu. Walaupun agama tidak diagung dan disucikan oleh manusia, agama tetap suci pada esensinya sendiri. Lantaran itu,
menjadi hak buat umat Islam untuk mempertahankan kesucian agamanya. Kesucian Islam bakal tercemar dengan perbuatan jenayah penganutnya. Murtad adalah antara jenayah terbesar menurut Islam. Dengan itu murtad bukan hak asasi, ia diharamkan oleh Islam malah si murtad yang tidak bertaubat tetap wajib dihukum.

Mahasiswa dan AUKU

Oleh: Sdr. Zainulfaqar Hj. Yaacob



PENDAHULUAN

Mahasiswa dan AUKU adalah tajuk biasa yang selalu kita wacanakan sebelum ini. Tajuk ini juga telah banyak kita baca dan tulis dalam bentuk akademia sehinggalah catatan eksklusif secara blogging.Maka, apabila kita berbincang tajuk kemahasiswa, tentu terbayang dalam pemikiran kita tentang aksi-aksi mahasiswa lampau. Mahasiswa era 1960an dan 1970an sering kali menjadi sejarah agong dalam generasi mahasiswa kini.Pidato lantang di speakers’ corner, membuat kenyataan akhbar, memorandum terbuka hatta demontrasi aman di kampung dan desa sering kali menjadi tanda aras (KPi) dalam kamus perjuangan mahasiswa hari ini.

Akhirnya, kita secara semulajadi terbuai oleh rasa romastisme. Kita melihat aksi-aksi seperti di atas ini kononnya sebagai tradisi kita – Tradisi Mencabar!Buku ‘Mahasiswa menggugat’ (1972), Di Sebalik Tabir Politik Kampus (1995), Mahasiswa Abad Ke-21 (2005) dan sebagainya membentuk dogma-dogma stereotaip dalam kerangka gerakan kita pada hari ini.

Begitu juga dengan subjek AUKU. Kita acapkali terperangkap dalam beberapa situasi apabila kita berwacana subjek AUKU ini. Pertama, kita terlalu gemar membincangkan AUKU ini sama ada perlu dimansuhkan atau dipinda; khususnya selepas Menteri Kementerian Pengajian Tinggi, YB Dato’ Khalid Nordin mulai menyatakan hasrat menilai semula AUKU ini.Kedua, kita acapkali membicarakan tentang seksyen-seksyen yang dilihat mencabuli hak asasi manusia secara berperundangan dan terlalu teknikal; padahal rata-rata kita (aktivis mahasiswa) tegas berpendirian bahawa AUKU ini mesti dimansuhkan.

Akhirnya, kita secara semulajadi telah hilang jatidiri kita sebagai kaum mahasiswa. Kita mulai meletakkan hasrat memansuhkan AUKU ini sebagai teras perjuangan kita di kampus dan pentas nasional. Lebih dari itu, kita ghairah membina suatu akta alternatif bagi menggantikan AUKU tanpa melihat sisi politik KPT/Kerajaan dan keperluan politik semasa di Malaysia sekarang ini.AUKU ini sebenarnya adalah suatu halangan (barrier) yang sengaja dicipta oleh kerajaan untuk melumpuhkan pergerakan kita. AUKU ini sebenarnya sengaja diperundangkan demi mengekang dan mengalihtumpuan kita dari nilai-nilai asasi perjuangan kita sebagai kaum mahasiswa.

Justeru, kertas kerja ini akan membicarakan persoalan nilai mahasiswa; dan bagaimana kita patut melihat AUKU dewasa ini? Kita tidak akan berbincang soal sejarah gerakan mahasiswa dan kita tidak akan berbincang persoalan AUKU dalam laras perundangan.Mahasiswa dan politik nilai

Mahasiswa terdiri oleh dua suku kata iaitu maha yang melambangkan besar atau berkuasa; dan siswa iaitu merujuk kepada kelompok penuntut atau pelajar di instiusi pengajian tinggi (IPT). Hasil sistesis kedua-dua suku kata ini memberi makna tersendiri – iaitu suatu ‘bangsa’ yang bukan sahaja mulia disebabkan kesempatan menuntut ilmu di peringkat tinggi (Universiti), tetapi turut mempunyai kuasa mobilisasi massa berteraskan kapasiti intelektual yang dimiliki oleh mereka. (Zainulfaqar b. Yaacob, 2006:20)

Mahasiswa merujuk pada satu kelompok pelajar yang berada di peringkat yang tinggi dalam sistem pendidikan formal sesebuah negara. Pengemblengan tenaga kelompok mahasiswa ini berteraskan daya keintelektualan yang bersifat idealis untuk mencapai matlamat yang digagaskan bersama, selaras dengan kedudukan mereka di puncak menara ilmu. Natijahnya, lahir satu arus gerakan yang sentiasa bersama dengan kebenaran (al-haq) dan sama sekali tidak bersekongkol dengan kebatilan hatta kelompok mereka ini dikenali sebagai independen Group. (Zuhdi b. Marzuki, 2002:th).

Profesor Feaur (Universiti Toronto) dalam bukunya The Conflict of Generation – The Charactor and Significance of Student Movement bahawa aktivisme mahasiswa lebih suatu pemberontakan dan kecenderungan ini lebih dilihat sebagai persoalan konflik antara generasi (generational conflict). Kondisi ini berlaku berpunca oleh kebencian kepada generasi lama yang sudah establish. Maka, mahasiswa dilihat sebagai pressure group yang anti-establisment. (Mohammad Abu Bakar, 1972:13).

Tuntasnya, mahasiswa mempunyai nilai-nilai tersendiri. Pertama, mahasiswa adalah ‘bangsa’ terpelajar. Kedua, mahasiswa ini mempunyai gagasan pemikiran dan tindakan yang tersendiri – disebut sebagai idealisme. Dan ketiga, pergerakan mereka adalah bersifat tersendiri.Dari nilai-nilai di atas ini, lahirlah rupa dan gaya aktivitisme mahasiswa Malaysia seperti berwacana, berdiskusi, berdebat, berpidato, mengeluarkan kenyataan akhbar, menghantar memorandum hatta berdemontrasi di universiti dan dalam lapangan ummat.Dari rupa dan gaya aktivitisme mahasiswa sebagaimana di atas ini, secara implisit dan semulajadinya turut membentuk nilai-nilai asasi kaum mahasiswa.

Rakyat melihat bentuk dan wajah aktivitisme mahasiswa. Begitu juga dengan parti-parti politik, kesatuan buruh/pekerja, badan bukan kerajaan (NGO) hatta pihak Kerajaan sendiri. Masing-masing mempunyai persepsi tersendiri berhubung satu-satu atau majmuk aksi mahasiswa Malaysia.

Bagi kaum rakyat, mahasiswa dahulu dianggap sebagai independent group,pressure group, cataliyst, check and balance dan sebagainya.Ini kerana mereka telah pun melihat partisipasi mahasiswa dalam isu kemiskinan rakyat di Teluk Gong (1967), Baling (1974) dan sebagainya.Rakyat juga telah melihat betapa lantangnya mahasiswa dalam isu anti-kolonialisme oleh Kerajan (1946-1950an; isu anti Tunku (1966); isu pencerobohan AS ke atas Hanoi-Haiphong (1966); isu bahasa dan kependidikan nasional (1967); isu sosio-ekonomi negara (1969); isu tuntutan Sabah oleh Filipina (1969); isu pencerobohan Rusia ke atas Szekoslovakia (1969); dan banyak lagi.

Aksi-aksi di atas ini turut dicermati oleh kerajaan dan parti-parti komponan kerajaan. Mereka menganggap bahawa mahasiswa cuba bersikap anti-establishment hatta berhasrat untuk mengambil alih kerajaan Malaysia. Bertitik tolak pada sangkaan ini, AUKU mula diperkenalkan pada 27 April 1971 dan kemudiannya dipinda pada tahun 1974, 1995 dan 1999 (peringkat Universiti Malaya sahaja).Adakah patut mahasiswa ditohmah sebagai anti-establishment disebabkan sikap lantang mereka itu kebetulan sama dengan sikap lantang pihak-pihak tertentu (Contoh: Labour Party of Malaya, 1954)?

Menurut Prof. Emeritus Dr. Khoo Kay Kim (2005), kelantangan mahasiswa era 1940an berpunca oleh tempuhan pengalaman mahasiswa dengan suasana Perang Dunia II yang turut ditempuhi oleh Malaya. Kelantangan mahasiswa era 1950an pula berpunca oleh tempuhan pengalaman mereka dalam era kemerdekaan Malaya. Maka, sikap anti-kolonialisme mereka sudah tentu masih menebal dan mereka ini tentu peka dengan tindak-tanduk kerajaan baru pada waktu tersebut (Abdul Razaq Ahmad, 2005:9-11)

Kelantangan mahasiswa era 1960an/1970an pula disebabkan oleh tempuhan pengalaman bekerja sebagai guru pendidik di luar bandar/desa oleh kebanyakkan calon mahasiswa sebelum mereka melanjutkan pengajian di Universiti. Mereka melihat tahap pendidikan anak bangsa mereka. Mereka melihat generasi muda mereka. Natijahnya, lahir/timbul kesedaran nasional dalam diri mahasiswa-mahasiswa pada waktu tersebut. (Muhammad Abu Bakar, 1972:23-24)Apa yang cuba dirumuskan di sini adalah aksi-aksi mahasiswa dalam satu-satu zaman tersebut berpunca oleh kesedaran dan tempuhan pengalaman. Dan partisipasi mereka dalam lapangan ummat adalah suatu perjuangan nilai atau lebih tepat disebut ‘politik nilai’.

Bertitik tolak pada asas ini, kerajaan telah melakukan suatu kesalahan besar ke atas mahasiswa dengan memperkenalkan AUKU. Pengenalan AUKU oleh kerajaan ini kerana kerajaan menjunjung ‘politik kekuasaan’ dan sanggup melakukan apa sahaja demi mengekalkan status quo mereka.

Politik nilai dan Politik Kuasa
Apakah makna politik kuasa? Apakah makna politik nilai? Dan apa pula hubung kaitnya antara kedua-dua ufuk politik tersebut dengan pengenalan AUKU?Politik kuasa adalah perjuangan untuk mendapatkan kuasa. Politik kuasa ini telah dianuti oleh parti-parti politik baik parti-parti komponan kerajaan mahupun parti-parti oposisi. Masing-masing mempunyai agenda perjuangan kekuasaan tersendiri dan tentu bersikap partisan serta mahu mendominasi kuasa dalam sesebuah negara bangsa. Jika parti-parti oposisi mendominasi kerajaan, bermakna parti-parti komponan akan mengambil posisi di pihak oposisi pula; begitulah sebaliknya.

Berbeza dengan politik nilai. Politik ini tidak mementingkan kemuncak kekuasaan, sebaliknya mereka lebih mementingkan perjuangan nilai – keadilan hak, kebebasan, hak bersuara, hak berkumpul, hak berpersatuan, hak untuk hidup, hak untuk menikmati pembangunan dll.Inilah yang diperjuangkan oleh mahasiswa selama ini dan politik nilai inilah yang seharusnya terus menjadi nilai-nilai perjuangan mahasiswa sehingga kini.Kita boleh lihat di Malaysia umpamanya. Gerakan anti Tunku cukup kuat pada era pertengahan 1960an dan mahasiswa telah berjaya menurunkan Tunku dari kerusi kekuasaan (Perdana Menteri) pada waktu tersebut. Namun, adakah mahasiswa menjadi perdana menteri selepas waktu tersebut?

Kita lihat pula politik kuasa oleh Kerajaan dan parti-parti komponan kerajaan. Demi memelihara status quo mereka, mereka mengikat hak-hak asasi mahasiswa seperti bersuara, berkumpul, berfikir, berpersatuan, berpolitik, bebas menikmati hidup dan sebagainya melalui pengenalan AUKU 1971 (Pindaan 1974).

Pencabulan hak-hak asasi mahasiswa ini boleh dilihat dalam Syeksen 15A, 15B, 15C, 15D, 16A, 16B, 16C AUKU itu sendiri. Sejak pengenalan AUKU inilah, kita telah lihat fungsi mahasiswa dalam memperjuangkan ‘politik nilai’ ini mulai luntur.Bagi mereka yang mahu terus meninggikan nilai-nilai perjuangan mahasiswa, mereka ini sanggup mengambil risiko politik dan perundangan. Lama-kelamaan, mendorong mereka terjun dalam politik kekuasaan juga dengan menubuhkan parti dan mencabar politik kekuasaan yang zalim (parti-parti tententu) dalam satu-satu PRU.

Mahasiswa tidak mempunyai banyak pilihan pada waktu tersebut. Mereka bukan sahaja dihalang hak berkumpul, berpersatuan, bersuara hatta hak berpartisipasi dalam politik nasional; malah ada dalam kalangan mereka ini telah diancam oleh pentadbiran Universiti, disoal siasat dalam kondisi yang menakutkan oleh Special Brance (SB)/Polis, didenda/dihukum, disingkir keluar Universiti dan sebagainya melalui politik kekuasaan oleh UMNO/BN serta proksi-proksi mereka di kampus/universiti.

Inilah yang fenomena yang digagaskan oleh Parti Mahasiswa Negara (PMN) baru-baru ini. Mahasiswa secara politik kekuasaan telah mencabar bekas Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato’ Seri Abdullah Hj. Ahmad Badawi atau Pah Lah.Demi memperjuangkan hak dan politik nilai tersebut, mahasiswa telah pun melanggar semua seksyen AUKU ini. KPT juga telahpun menyatakan hasrat untuk mengkaji semula akta draconion AUKU tersebut. Banyak kelompok mahasiswa juga telah pun mencadangkan satu-satu akta alternatif atas pelbagai pertimbangan masing-masing.

Bagi saya, akta zalim seperti AUKU ini akan terus dipertahankan kerana AUKU ini merupakan suatu kelangsungan politik kuasa. AUKU ini hanya akan mansuh apabila satu-satu rejim terlebih dahulu tumbang menyembah bumi. Sebagai contoh, pemansuhan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) di Indonesia dilakukan selepas rejim Suharto ditumbangkan oleh mahasiswa. Untuk menangani politik kuasa dalam konteks Malaysia, kita juga seharusnya bertindak secara politik (nilai) juga dengan mobilisasi mahasiswa dan rakyat demi menumbangkan rejim zalim UMNO/BN sendiri.

Dari sudut lain, pasca pengenalan AUKU juga telah mengakibatkan rata-rata mahasiswa dikuasai oleh culture of fear dan complacent zone. Akhirnya, graduan Universiti mungkin berjaya dari segi pencapaian CGPA (akademia), namun kurang daya servival, jatidiri, budaya berfikir dan tidak mampu tampil sebagai Universal Man sebagaimana yang dicita-citakan oleh Kerajaan ketika mahu menubuhkan Universiti.

Tuntasnya, pengenalan AUKU ini adalah suatu keputusan salah pihak Kerajaan. AUKU membunuh bakat dan potensi mahasiswa. AUKU mengakibatkan mahasiswa tandus idealisme. AUKU juga menyebabkan mahasiswa hari ini beraktivisme bukan dalam kerangka ‘politik nilai’ mereka.

PENUTUP: SARANAN DAN KESIMPULAN
Berdasarkan pada pandangan di atas, kita boleh membuat beberapa kesimpulan dan saranan.

PERTAMA, mahasiswa wajib beraktivitisme dalam kerangkanya tersendiri berteraskan ‘politik nilai’. Jangan kerana sikap optimisme kita terhadap perubahan yang akan dilakukan oleh Pakatan rakyat tidak lama lagi menyebabkan kita bacul untuk menjadi independent group,pressure group, cataliyst, check and balance dan sebagainya.Dalam kamus perjuangan kita, tidak ada sikap partisan atau ‘politik kuasa’ sama ada pada Kerajaan Barisan Nasional atau Pakatan Rakyat. Nilai yang betul patut dihargai, nilai yang salah patut disanggah.

KEDUA, AUKU wajib dimansuhkan. Tidak perlu tunggu AUKU ini menzalimi seseorang/sekelompok mahasiswa, baru kita tampil mengatakan AUKU ini sah zalim. Kezaliman AUKU sebenarnya perlu dilihat dalam tiga keadaan – (1)falsafah; (2)praktikal/perlaksanaan: dan (3)implikasi/natijah. GMMA tidak perlulah cuba memansuhkan AUKU secara berperundangan kerana KPT sedang berpolitik (kekuasaan / politik kuasa) dengan kita. Elok, kita juga mengambil kira sisi politik KPT dan YB Dato’ Khalid Nordin ini sebelum merencana satu-satu aktivitisme kita selepas ini.

Jika mahasiswa dituduh jenayah, sila bawa mereka ke pengadilan mahkamah secara bebas. Dakwa mereka dengan undang-undang yang (munasabah) sedia ada. Kita tidak perlu AUKU kerana AUKU sah zalim.

KETIGA, Kerajaan dan parti-parti politik baik BN atau PR perlu melihat Gerakan Mahasiswa di Malaysia ini secara positif. Sekiranya tumbang satu-satu rejim, mahasiswa tetap mahasiswa dan dalam kerangka mahasiswa. Mahasiswa tidak akan mengambil tampuk kuasa, terus kekal dengan ‘politik nilai’ seperti yang sedia ada.

Jika PR memimpin Malaysia, PR juga perlu ingat bahawa kita tetap akan menjadi independent group,pressure group, cataliyst, check and balance dan sebagainya kepada Kerajaan pada waktu itu. BN yang ada pada hari ini juga perlu sedar, jika berlaku perlanggaran hak-hak asasi mahasiswa, kami tetap tampil sebagai independent group,pressure group, cataliyst, check and balance dan sebagainya kepada pihak BN juga.

Pokok pangkalnya AUKU perlu dimansuhkan kerana jika akta draconion ini tidak mansuh sekalipun, mahasiswa tetap dengan idealismenya - independent group,pressure group, cataliyst, check and balance dan sebagainya. AUKU telah lama kita langgarkan sebelum ini, mengapa hari ini kita mula menilai semula tindak-tanduk kita?

AUKU sepatutnya tidak patut ada dalam kamus perjuangan kita kerana banyak lagi peninggian nilai lain patut dicetuskan/diperjuangkan oleh kita hari ini demi memastikan generasi baru Malaysia kelak lebih menikmati kesejahteraan hidup di Malaysia.
WE UNITE FOR STUDENT’s AGENDA!
————————-
Rujukan:-
1. Abdul Razaq Ahmad (pngr.). 2005. Mahasiswa Abad 21. Selangor: UKM.
2. Mohd Suhaimi al-Maniri (1995), Di sebalik Tabir Politik Kampus, Selangor: Pustaka Generasi Baru.
3. Muhammad Abu Bakar (1972), Mahasiswa Menggugat. Kuala Lumpur: Penerbitan Pustaka Antara.
4. Zainulfaqar Yaacob. 2006. Gerakan Mahasiswa Islam Universiti Malaya: Sejarah dan Sumbangan Di Awal Abad Ke-21. Latihan Ilmiah (Nov. 2006). Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya. Kuala Lumpur.
5. Zuhdi Marzuki. 2002. Menyelusuri Kebangkitan Mahasiswa Islam. Kertas kerja Kolokium Halatuju Mahasiswa Islam 2002. Ekspo Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Malaya (e-PMIUM). Universiti Malaya, Kuala Lumpur. 20 Julai.

> Kertas kerja ini dibentangkan dalam Forum Mahasiswa Sempena Hari Hak Asasi Mahasiswa 2008; anjuran Gabungan Mahasiswa Mansuh AUKU (GMMA); pada Jumaat 13 Jun 2008 (jam 8.30 malam – 11.00 malam) di Kuala Lumpur Selangor Chinese Assambly Hall (KLSCAH), Kuala Lumpur.
> Penulis adalah graduan Universiti Malaya (Jul. 2003- Nov. 2006) dalam Sarjana Muda Usuluddin (Sejarah dan Tamadun Islam). Penulis boleh dihubungi melalui mobile [+60194241583/+60193146692]; atau email [zainulfaqar_yaacob@yahoo .com] atau blog [http://zainulfaqar.wordpress.com/profile/]. 11 Jun 2008, 4.40 pagi.

Mahasiswa Pendidik Pencetus Revolusi

Mahasiswa Pendidik Pencetus Revolusi

Dulu, Kini dan Selamanya...

Dulu, Kini dan Selamanya...

### salam ukhwah ###....

My Photo
Mujahideen
Dilahirkan pada 30 Ogos 1984, anak ke 2 dr 6 adik bradik. sekarang menuntut di Universiti Pentarbiyahan Syuhada' Islam,program pendidikan moral. erm...stakat tu je kot :-) "kadangkala kite perlu menangis supaya kite sedar hidup ini bukan sekadar utk ketawa, namun, kite juga perlu ketawa, supaya kite sedar betapa bernilainya setitis air mata...."
View my complete profile

MUTIARA KATA

Menurut perspektif Islam, wanita adalah pelengkap kepada lelaki, sekali gus memelihara keseimbangan ciptaan Allah s.w.t. Malah Rasulullah s.a.w memartabatkan kaum wanita pada kaca mata Islam sebagai perhiasan dunia yang paling indah dan unik. Ini sebagaimana sabda Baginda bermaksud: "Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan yang paling indah ialah wanita yang solehah." - (Riwayat Muslim)

bicara siswa

Followers

Nasyid FM

Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all