Monday, April 11, 2011

Meluangkan Waktu Mendiskusikan Persoalan Keluarga

Bismillah walhamdulillah… Alangkah indahnya sesebuah keluarga itu, apabila anggota keluarga diberi waktu dan kesempatan untuk sama-sama duduk mendiskusikan berbagai persoalan berkaitan keluarga atau pelbagai isu2 ilmiah, maka itulah pertanda bahawa keluarga tersebut mempunyai keutuhan ikatan kekeluargaan, dan saling bekerjasama dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah.


Tidak perlu diragukan lagi, bahawa laki-laki yang diberi amanah kepemimpinan dalam rumah tangga adalah orang yang paling bertanggung jawab, penentu segala keputusan. Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada ahli keluarga yang lain, terutamanya kepada anak-anak yang menginjak dewasa maka hal itu akan merupakan pendidikan tanggung jawab kepada mereka, di samping semua akan merasa lepas dan lapang dengan perasaannya, karana pendapat mereka didengar dan dihargai. Misalnya, dengan mendiskusikan soal umrah pada bulan Ramadhan atau isu-isu semasa yang berkaitan agama pada hari ini, berbincang ttg perancangan ke rumah saudara mara untuk menyambung silaturrahim, penyelenggaraan walimah pernikahan, aqiqah, pindah rumah, projek-projek sosial seperti penghitungan jumlah fakir miskin sekampung untuk pemberian bantuan atau pengiriman makanan kepada mereka, demikian juga diskusi tentang kemelut keluarga, kerabat dan bagaimana untuk membentuk keluarga yang bahagia.


Perlu juga diingatkan kepada bentuk lain dari pertemuan yang penting untuk diselesaikan, yakni “Pertemuan Keterbukaan” antara kedua orang tua dan anak-anak. Beberapa kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang telah baligh terkadang tidak mungkin untuk diselesaikan kecuali melalui pertemuan pribadi. Misalnya, bapa dengan anak laki-lakinya memperbincangkan secara terbuka berbagai persoalan yang berkaitan problem anak remajanya dan hukum-hukum baligh. Demikian pula halnya ibu dengan puterinya membincangkan persoalan-persoalan tersebut sekaligus mengajarkannya hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita baligh.


Bapa dan ibu hendaknya berusaha semampu mungkin membantu memecahkan problem anak-anaknya terutama pada masa mereka masih remaja. Hal itu misalnya biasa dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa yang menarik, seperti “ketika saya masih seumur kamu …”, sehingga mudah diterima.


Tidak adanya pertemuan semacam ini terkadang menjadikan sebahagian anak-anak menjalin persahabatan dengan teman-teman yang tidak baik, yang pada akhirnya menimbulkan masalah yang besar didalam rumah tangga. Wallahu A’lam.

Wednesday, April 6, 2011

WASPADALAH !!! Saudara Ipar Adalah Maut

Pada pembahasan kali ini, kita mencuba menukilkan penjelasan singkat mengenai Saudara Ipar dalam syariat Islam khususnya antara Saudara Ipar yang berbeda jenis kelamin.


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Ada seorang wanita yang tinggal bersama saudarinya yang telah bersuami. Tatkala bersama saudara iparnya, ia tak berhijab. Bila diingatkan tentang hal itu, ia berdalih, bahawa ia dengan iparnya adalah mahram muaqat (mahram sementara) sehingga boleh lepas hijab.


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjawab: Ada syubhat (ketidak pahaman) pada wanita tersebut. Ia beranggapan, bahawa seorang ipar, yang terlarang menikahinya selama masih (berkeluarga) dengan saudara kandungnya, termasuk mahram, (walau) mahram mua’aqat (mahram sementara).


Pemahaman begitu salah. Sesungguhnya, mahram ‘ila amadin’ (mahram temporer) itu bukanlah mahram. Hendaknya ia diperlakukan sebagai halnya ‘ajnabi’ (seseorang yang tidak terikat dalam mahram), hanya saja ia tidak boleh dinikahi secara bersama-sama. Yakni, adik dan kakak keduanya dinikahi (jam’u baina ukhtaini, -penj-.)


Sesungguhnya mahram (hakiki atau abadi) itu disebabkan nasab, dan lantaran hal yang mubah. Maksud kerana nasab yaitu kerana keturunan karib kerabat. Sedang maksud kerana yang mubah yaitu kerana kekeluargaan melalui perkahwinan atau persusuan. (baca Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala. An-Nisa: 22 -23)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. yang artinya: ”Jangan kamu sekalian masuk ke dalam (ruang) wanita. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara ipar?”. Rasulullah menjawab, “Saudara ipar adalah kematian” [Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir no. 2677].


Berdasarkan ini, maka kami katakan kepada saudari penanya, bahawa temannya yang bincang-bincang dengan iparnya dengan tanpa memakai hijab, dan ia menyatakan, bahawa antara dia dan iparnya adalah ‘mahram muaqat’ (mahram sementara), sesungguhnya perkataan itu salah.


Mahram disini bukanlah mahram sementara, karena yang dilarang/diharamkan adalah mengumpulkan isteri dari dua bersaudara seperti firman Allah di atas. Dan bukan yang diharamkan untuk menikahi saudara isteri sebagaimana difahami oleh teman penanya.


(Dikutip dari: Fatawa Al-Usrati wa Khoshotan Al-Mar’ah, dengan penambahan editorial)

Siapa Saja Mahram Kita ?

Perlu diluruskan tentang istilah mahram, kerana masih banyak orang yang menyebut dengan istilah muhrim, padahal yang dimaksud adalah mahram. Dalam bahasa arab, kata muhrim (muhrimun) artinya orang yang berihram dalam ibadah haji sebelum bertahallul. Sedangkan kata mahram (mahramun) artinya orang-orang yang merupakan lawan jenis kita, namun haram (tidak boleh) kita nikahi selamanya. Namun kita boleh bepergian (safar) dengannya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan, dsbgnya. Berikut ini akan dijelaskan siapa saja mahram dari kalangan laki-laki, yakni siapa saja wanita yang haram dinikahi. Adapun mahram dari kalangan perempuan adalah sebaliknya, yakni laki-laki yang haram dinikahi.

Mahram biasanya dibahagikan menjadi tiga kelompok. Yang pertama, mahram karena nasab (keturunan). Kedua, mahram karena penyusuan. Ketiga, mahram karena pernikahan.

Kelompok yang pertama (mahram karena keturunan) ada tujuh golongan, yakni :

  1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-laki maupun wanita.
  2. Anak perempuan (puteri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-laki-laki maupun perempuan.
  3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.
  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakak (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  6. Puteri saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
  7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.

Mereka inilah yang dimaksudkan Alloh Tabaaraka Wa Ta’ala dalam surat An Nisa: 23.

Kelompok yang kedua ada tujuh golongan juga, sama persis seperti di atas, namun hubungannya karana sepersusuan (yakni satu ibu susuan, dengan minimum disusui 5x sampai kenyang).

Adapun kelompok yang ketiga, maka jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut :

  1. Isteri bapak (ibu tiri), istri kakak dan seterusnya ke atas, berdasarkan surat an nisa:22
  2. Istri anak, isteri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan an nisa:23
  3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas, berdasarkan an nisa:23
  4. Anak perempuan isteri dari suami lain (rabibah), cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib (anak lelaki isteri dari suami lain), berdasarkan surat an nisa :23

Semoga apa yang dijelaskan secara ringkas diatas tersebut memberikan landasan bagi kita untuk mengamalkan dan menyelesaikan masalah-masalah yang akan berkaitan dengan Mahram ini, seperti masalah pernikahan dan sebagainya.

(Sumber Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir surat An Nisa : 22-23, Tafsir As Sa’di surat An Nisa 22-23, Asy Syarhul Mumti’, 5 /168-210)

Friday, March 4, 2011

RINDU BERJUMPA DENGAN ALLAH...

Ketika cinta kepada Allah SWT telah bertakhta dalam hati hamba, maka dengan sendirinya ia akan selalu berusaha keras mengambil kesempatan yang ia miliki untuk berkhalwat dengan Allah, berzikir dan bermunajat kepadaNYA. Berusaha menyatukan hatinya bersama ALLAH swt. Setahap demi setahap akan lahirlah kerinduan yang terpendam kepada Allah swt yang bersemayam dalam hati dan mendorongnya untuk dapat melihatNya. Ketika diberitahu kepadanya bahawa Allah swt tidak dapat dilihat dan ditemui di dunia tetapi setelah mati, maka bertambahlah kerinduannya untuk bertemu dengan Allah swt.

Pertemuan dengan kekasih Yang Maha Agung, Zat Yang selama bertahun-tahun ia selalu bermunajat kepadaNya dan menmpahkan air mata dalam mihrabNya.

Pertemuan dengan Zat yang telah ia seru diwaktu-wktu genting, ia selalu mendapatiNya dekat dengannya dan mengabulkan doanya.

Pertemuan dengan Zat yang mencukupi, mengawasi dan menolongnya dari diriny dan musuhnya. Pertemuan dengan Zat yang member, memuliakan, menjaga dan memeliharanya dari setiap bencana dengan sebaik-baiknya.

Hasan al-Basri berkata,”Sesungguhnya, para pencinta Allah swt adalah orang-orang mewarisi kehidupan yang baik, merasakan kenikmatan ketika dapat bermunajat dengan kekasih mereka, dan mendapatkan kemanisan dalam hati mereka. Lebih-lebih lagi jika sudah terdetik dalam hati mereka, nescaya mereka akan mengingati kebesaranNya. Tersingkaplah tirai yang menutupi (pandangan)nya di tempat yang aman dan menggembirakan. Diperlihatkan kepada mereka keagunganNya dan diperdengarkan kepada mereka kelazatan perkataanNya serta disampaikan kepada mereka jawapan atas apa yang mereka munajatkan setiap hari dalam kehidupan mereka.

Dengan demikian, kerinduan kepada Allah swt adalah buah dari bertakhtanya cinta dalam hati seorng hamba. Ibnu Rajab menegaskan hal ini dalam perkataannya, “Kerinduan pada Allah swt merupakan darjat inggi yang dibangunkan dari kekuatan cinta kepada Allah swt. Sesungguhnya, Rasulullah s.a.w pernah meminta darjat ini kepada Allah swt.”

Disebutkan dalam doa Rasulullah S.A.W :

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu keredhaan terhadap ketentuanMu, ketenangan hidup sesudah kematian, kelazatan melihat wajahMu, dan kerinduan untuk berjumpa denganMu tanpa adaya halangan yang menyukarkan dan tanpa adanya ujian yang menyesatkan.”


Rasulullah s.a.w meminta kepada TuhanNya kerinduan untuk berjumpa denganNYA tanpa adanya hal-hal yang menyukarkannya. Baginda berdoa dengan sabda, “Kesempitan dunia dan takdir yang menyakitkan, atau fitnah dalam agama yang menyesatkan atau kalimah lain yang bermakna menjadikan kerinduan pada Allah itu lahir dari dorongan rasa cinta.”


Disebutkan dalam sebuah atsar bahawa Allah SWT berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang soleh telah lama rindu untuk bertemu denganKU. Padahal AKU jauh lebih rindu kepada mereka. Tidaklah para perindu itu rindu kepadaku kecuali kerana kurnia kerinduanKU kepada mereka. Ingatlah, barang siapa mencariKU, nescaya ia akan mendapatkanKU. Barangsiapa mencari selainKU, nescaya ia tidak akan pernah mendapatkanKU. Adakah orang yang menghadap kepadaKU, kemudian AKU tidak menyambtnya? Adakah orang yang berdoa kepadaKU, lalu AKU tidak makbulkan doanya? Dan adakah orang yang meminta kepadaKU, lalu AKU tidak member kepadanya?”….

(Sumber : Mencintai dan Dicintai Allah)

Tuesday, March 1, 2011

SARAWAK BUMI DIBERKATI...

Bismillah walhamdulillah….sampai saat ini Allah masih lagi member kesempatan untuk diriku memperbaiki iman dan amal, serta terus melakukakn kerja-kerja amal. Smoga semuanya menjadi bekalanku diakhirat kelak. Masih teringat nasihat seorang ustaz sewaktu aku belajar zaman muda-muda dulu, katanya “ Harta kite yang sebenarnya adalah harta yang telah kita infakkan untuk jalan Fisabilillah, bukan harta yang kita simpan. Justeru, simpanlah harta kita dengan menginfakkan pada jalan Allah, nescaya kita akan mendapatkannya semula apabila kite kembali pada Allah…”. Alhamdulillah,Kata-kata ini telah memberi motivasi pada diriku untuk menjadi hamba Allah yang pemurah….

Sungguh pantas masa berlalu, sedar atau tidak sudah 3 bulan diriku berada di Bumi Kenyalang atau aku lebih suka menamakannya dengam bumi diberkati. Aku menamakan Sarawak sebagai bumi diberkati disebabkan Sarawak mempunyai medan yang sangat luas utk medan dakwah. Sesuai untuk hamba-hamba Allah yang ingin mencari bekalan untuk hari akhirat kelak. Mana tidaknya, masyarakat kat sini sangat dahagakan agama, tenaga pengajar yang ada pun masih tidak mencukupi untuk membantu masyarakat kat sini menambah ilmu pengetahuan tentang agama Islam. Justeru, masyarakat kat sini, sangat membutuhkan para daie dari semenanjung untuk mengajar agama kepada masyarakat disini. Justeru, para guru,ustaz dan juga ustazah kat sini perlu berkorban masa dan harta untuk mendidik generasi ini, mudah-mudahan suatu hari nanti mereka pula yang akan menjadi murabbi dan murabbiyah di tanah air mereka sendiri.

Apabila tiba sahaja disini, aku teringatkan peristiwa hijarah Rasulullah saw, yang mana sewaktu Rasulullah SAW berhijarah ke madinah, terdapat dua kumpulan besar yang telah disatukan oleh Rasulullah SAW iaitu kaum muhajirin dan juga kaum Ansor. Kaum muhajirin adalah penduduk Makkah yang bersama-sama dengan Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, sementara kaum Ansor pula adalah penduduk Madinah yang menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabat ra. Bila aku disini, aku telah berazam untuk mencontohi kaum muhajirin, yang mana sebelum pulang ke tanah air perlu tinggalkan sesuatu untuk Allah disini. Moga-moga Allah member kekuatan untuk diriku memperluaskan empayar Rasulullah SAW disini. Memang tidak dinafikan, kehidupan disini agak mencabar terutamanya untuk para daie. Jika dahulu, sudah menjadi kebiasaan utk diriku bercakap dan bermuzakarah tentang soal agama dengan kawan-kawan dan teman-teman. Namun disini, daku perlu memperkenalkan Islam kepada pelajar-pelajarlu yang kebanyakannya nonmuslim yang beragama KRISTIAN. Setiap hari aku dilontarkan persoalan-persoalan perbandingan agama. Kedaaan ini sedikit sebanyak telah member motivasi kepadaku untuk membaca buku2 agama termasuk berkaitan agama lain sebelum masuk kelas walaupun aku bukan mengajar pendidikan Islam. Smoga Aku terus istiqamah dengan perjuangan Islam disini….Amen….

Mahasiswa Pendidik Pencetus Revolusi

Mahasiswa Pendidik Pencetus Revolusi

Dulu, Kini dan Selamanya...

Dulu, Kini dan Selamanya...

### salam ukhwah ###....

My Photo
Mujahideen
Dilahirkan pada 30 Ogos 1984, anak ke 2 dr 6 adik bradik. sekarang menuntut di Universiti Pentarbiyahan Syuhada' Islam,program pendidikan moral. erm...stakat tu je kot :-) "kadangkala kite perlu menangis supaya kite sedar hidup ini bukan sekadar utk ketawa, namun, kite juga perlu ketawa, supaya kite sedar betapa bernilainya setitis air mata...."
View my complete profile

MUTIARA KATA

Menurut perspektif Islam, wanita adalah pelengkap kepada lelaki, sekali gus memelihara keseimbangan ciptaan Allah s.w.t. Malah Rasulullah s.a.w memartabatkan kaum wanita pada kaca mata Islam sebagai perhiasan dunia yang paling indah dan unik. Ini sebagaimana sabda Baginda bermaksud: "Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan yang paling indah ialah wanita yang solehah." - (Riwayat Muslim)

bicara siswa

Followers

Nasyid FM

Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all